Difusi Osmosis

Posted On 1 Desember 2008

Filed under exact

Comments Dropped leave a response

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Mempelajari dunia kehidupan tidak terlepas dari pengetahuan tentang hirarki biologi. Dalam pengetahuan biologi, sel merupakan unit terkecil yang dapat melakukan aktivitas kehidupan. Selain itu, dalam organisme terdapat alat transpor yang mampu mengatur organisme lainnya. Sehingga membran sel tersusun atas senyawa fosfolipid bilayer. Oleh karena itu, sel mampu melakukan transpor zat. Hal ini sangat dibutuhkan oleh tumbuhan agar mereka dapat mendistribusikan energi yang mereka dapatkan dari alam.

Transpor zat melalui membran dibedakan atas 2 (dua), yaitu transpor zat yang memerlukan energi (transpor aktif) dan transpor yang tidak memerlukan energi (transpor pasif). Transpor aktif meliputi proses pompa ATP, eksositosis, dan endositosis. Adapun transpor pasif meliputi proses difusi, osmosis, dan difusi terbantu.

· TRANSPOR AKTIF

Transor aktif dilakukan apabila zat yang akan dilewatkan membran melawan gradien konsentrasi sehingga tidak dapat mengendalikan transpor aktif.

· DIFUSI

Difusi merupakan pergerakan atau perpindahan partikel atau molekul suatu zat (padat,cair, atau gas) dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah, baik melewati membran ataupun tidak.

Contohnya : perpindahan oksigen (O2) dari paru-paru ke dalam darah.

· OSMOSIS

Osmosis merupakan proses perpindahan molekul-molekul zat pelarut (air) dari tempat yang berkonsentrasi rendah menuju ke tempat yang berkonsentrasi tinggi dengan melewati membran semipermeabel.

Contohnya : Masuknya air ke dalam sel-sel akar.

· DIFUSI TERBANTU

Difusi terbantu adalah difusi yang memerlukan bantuan protein.

Contohnya : perpindahan bakteri Escherichia Coli ke medium yang mengandung laktosa.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Jelaskan 2 cara transportasi zat melalui membran sel!

2. Apakah perbedaan difusi dan osmosis?

3. Jelaskan cara molekul berukuran kecil melewati membran sel!

1.3 TUJUAN

Pengamatan ini dilakukan agar siswa dapat mengetahui perbedaan proses transportasi zat secara difusi dan osmosis.

1.4 MANFAAT

· Bagi siswa : Siswa mampu melakukan penelitian dengan petunjuk dari bahasan materi, melakukan eksperimen, dan menyelesaikan tugas iliah dengan sendiri ataupun kelompok serta mendapatkan pengetahuan tambahan tentang pokok bahasan yang diberikan oleh guru.

· Bagi guru : Guru mampu menilai kemampuan siswa dalam melakukan eksperimen dan menyelesaikan tugas ilmiah yang diberikan kepada siswa serta guru mampu menilai sejauh mana wawasan siswa tentang pokok bahasan yang menjadi tugas.

· Bagi masyarakat : Masyarakat akan mendapatkan pengetahuan umum tentang pokok bahasan yang dibahas sehingga wawasan masyarakat tentang pokok bahasan yang dibahas akan bertambah.

1.5 WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN

1 Tempat : Laboratorium Biologi SMAN 3 Makassar

2 Waktu : Rabu, 10 September 2008

BAB II

LANDASAN TEORI

Pada membran sel terikat protein yang menembus maupun yang berada di luar permukaan. Pernyataan ini berdasarkan atas penemuan S.J Jinger dan G. Nicholson pada tahun 1972 tentang teori membran yang dikenal sebagai model mozaik fluid. Dengan melihat struktur seperti yang disebutkan di atas, membran bukan hanya sebagai pembatas suatu sel, tetapi lebih kompleks lagi karena membran memiliki kegunaan lain seperti berperan dalam lalu lintas keluar masuknya sel.

Transportasi molekul yang menuruni gradien konsentrasi disebut dengan transportasi pasif, sedangkan transportasi molekul yang melawan gradien konsentrasi disebut transportasi aktif. Molekul-molekul yang berukuran besar dalam proses transportasinya melibatkan pelekukan membran sel sehingga membentuk suatu vesikula. Transportasi aktif meliputi proses pompa ATP, eksositosis, dan endositosis. Adapun transpor pasif meliputi proses difusi, osmosis, dan difusi terbantu.

Transpor pada membran tergantung pada ukuran molekul dan konsep zat yang melewati membran sel tersebut molekul-molekul yang berukuran kecil dapat melalui membran sel dengan dua cara, yaitu:

· Dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, atau bisa juga

· Menuruni gradien konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.

BAB III

HASIL EKSPERIMEN

3.1 ALAT DAN BAHAN

Ü Percobaan pertama

A. Alat

– Pisau (1 buah)

– Tissue (2 lembar)

– Gelas ukur 50 ml (3 buah)

– Stopwatch (1 buah)

B. Bahan

– Kentang (1 buah dipotong dadu)

– Aquades (20 ml)

– Larutan glukosa 30% (20 ml)

– Larutan glukosa 5% (20 ml)

Ü Percobaan kedua

A. Alat

– Plastik tebal (1 buah)

– Pipet tetes (1 buah)

– Labu erlenmeyer 250 ml (2 buah)

– Stopwatch (1 buah)

B. Bahan

– Tinta hitam (secukupnya)

3.2 CARA KERJA

Ü Percobaan pertama

Bersihkan kentang dari kulitnya.

Potong kentang dengan ukuran 1×1 cm sebanyak 3 potong.

Keringkan kentang dengan tissue lalu ditimbang.

Ambillah larutan yang sudah disediakan di masing-masing gelas ukur sebanyak 20 ml dan beri tanda untuk setiap larutan.

Masukkan potongan kentang ke masing-masing gelas ukur yang telah diberi tanda secara bersamaan, untuk gelas ukur A (larutan glukosa 30%), gelas ukur B (larutan glukosa 5%), dan larutan C (aquades).

Rendamlah potongan kentang tersebut selama 20 menit.

Setelah 20 menit angkatlah kemudian simpan di atas tissue. Dan periksa keadaan kentang tersebut, kemudian timbang ulang kentang tersebut dan catat hasilnya.

Ü Percobaan kedua

Siapkan 2 buah labu erlenmeyer.

Isi labu erlenmeyer dengan air bersih sampai penuh.

Teteskan kira-kira sebanyak 5 tetes tinta ke dalam salah satu labu erlenmeyer (pertama).

Perhatikan peristiwa tercampurnya air dan tinta. Kemudian catat waktunya sampai air dan tinta tercampur secara homogen.

Setelah itu, labu erlenmeyer yang berisi tinta itu ditutup dengan plastik tebal dan diletakkan mulutnya ke atas labu erlenmeyer yang satunya (kedua).

Perhatikan peristiwa yang terjadi. Catatlah waktunya.

3.3 HASIL PENGAMATAN

Ü Percobaan pertama

NO

JENIS LARUTAN

BERAT KUBUS UMBI KENTANG

KETERANGAN

SEBELUM PERCOBAAN

SESUDAH PERCOBAAN

A

LARUTAN GULA 30%

1 gr

0,2 gr

Agak lembek

B

LARUTAN GULA 5%

1 gr

0,4 gr

Agak keras

C

AQUADES

1 gr

1 gr

Keras

Ü Percobaan kedua

a. Proses percampuran air dan tinta pada labu erlenmeyer pertama sampai homogen membutuhkan waktu selama 2:23,19 menit.

b. Proses percampuran antara isi dari labu erlenmeyer yang pertama dengan labu erlenmeyer kedua yang hanya berisi air membutuhkan waktu 9:32,77 menit.

c. Pada proses ini terjadi perpindahan zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah (difusi). Karena tinta yang berkonsentrasi tinggi menyebar ke air yang berkonsentrasi lebih rendah.

3.4 PERTANYAAN DAN JAWABAN

Ü Percobaan pertama

1. Apakah terjadi perubahan berat pada umbi kentang?Mengapa demikian?

Jawaban: Ya, hal ini disebabkan karena air yang berada pada kentang bergerak keluar ke gelas ukur sehingga kadar air pada kentang berkurang dan menyebabkan berat pada umbi kentang berkurang. Namun, perubahan berat tidak terjadi pada kentang yang direndam dalam aquades karena antara aquades dan kentang memiliki konsentrasi yang sama (isotonis).

2. Sifat apakah yang terdapat pada kentang dan larutan gula?

Jawaban: Pada percobaan kentang dan larutan gula dapat diketahui bahwa kentang bersifat hipotonik dan gula bersifat hipertonik karena air pada kentang bersifat encer sedangkan larutan gula bersifat pekat.

Ü Percobaan kedua

1. Proses apakah yang dialami larutan tinta?

Jawaban: Larutan tinta mengalami proses difusi dengan air pada labu Erlenmeyer. Hal ini dikarenakan proses perpindahan zat yang terjadi bergerak dari zat berkonsentrasi tinggi ke zat berkonsentrasi rendah.

2. Mengapa pencampuran antara air dan tinta pada larutan yang kedua lebih lama dibandingkan larutan pertama?

Jawaban: Hal ini disebabkan karena wadah tempat penyebaran tinta lebih luas dengan volume labu yang sama yakni dua buah labu Erlenmeyer. Sedangkan Pada larutan pertama tinta hanya menyebar pada wadah yang lebih kecil (hanya satu labu erlenmeyer).

BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Transportasi zat melalui membran sel dapat dilakukan dengan cara transportasi aktif dan transportasi pasif.

2. Difusi merupakan pergerakan atau perpindahan partikel atau molekul suatu zat (padat,cair, atau gas) dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah, baik melewati membran ataupun tidak. Sedangkan osmosis merupakan proses perpindahan molekul-molekul zat pelarut (air) dari tempat yang berkonsentrasi rendah menuju ke tempat yang berkonsentrasi tinggi dengan melewati membran semipermeabel.

3. Molekul berukuran kecil dapat melewati membran sel dengan dua cara, yaitu dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah, atau bisa jugaMenuruni gradien konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah.

SARAN

Sebaiknya eksperimen seperti ini lebih sering dilakukan agar para siswa lebih mengetahui alat-alat laboratorium dan lebih memahami materi yang dipelajari serta mampu menyelesaikan eksperimen dengan lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

DN, Ummu Ataliana, Dra. 2006. Prestise biologi untuk Siswa SMA & MA Kelas XI. Surakarta: Pustaka Utama.

Pratiwi, D. A., Dra, dkk. 2007. Biologi untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.

Pujiyanto, Sri. 2008. Menjelajah Dunia Biologi 2 Kelas XI. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.

Santoso, Begot, Drs., M. Si. 2005. Biologi dan Kecakapan Hidup. Jakarta: Ganeca Exact.

Syarat-syarat Nabi & Imam/Khalifah

Posted On 1 Desember 2008

Filed under Al Shia

Comments Dropped leave a response

(Pemimpin Islam (Para Nabi & Rasul) dan Penerus Para Nabi)


SYARAT PERTAMA

  1. Harus perbuatan Allah swt (pilihan Allah swt):

àDan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim“. (QS. Al-Baqarah [2]: 124) ß ini juga dalil pengangkatan Imam

àIngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.(QS. Al-Baqarah [2]: 30)

Ahlussunnah berpendapat bahwa ayat ini adalah masalah penciptaan manusia di muka bumi. Secara akal sehat pendapat itu jelas salah, karena ayat tentang penciptaan ada pada surat berikut:

àDan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,..(QS. Al-Hijr [15]: 28)

Jadi, jelas bahwa QS. Al-Baqarah ayat 30 adalah tentang Imam/Pemimpin/Khalifah adalah janji, perbuatan dan hak Allah, tetapi bukan penciptaan manusia pada umumnya.

àKami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,..” (QS. Al-Anbiyaa [21]: 73)

àDan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia).” (QS. Al-Qashash [28]: 68) ß Pilihan adalah MUTLAK Hak Allah swt.

Semakin jelas bahwa Imam/Khalifah/Pemimpin Islam yang Hak adalah janji Allah, perbuatan Allah dan Hak-Nya dalam menghendaki dan memilih!

SYARAT KEDUA

  1. Nabi & Imam/Khalifah wajib (harus) ma’shum (suci/terjaga dari dosa karena menyangkut penyampaian risalah untuk kemashlahatan umat manusia)

àDan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh” (QS. Al-Anbiyaa [21]: 72)

Ayat diatas menerangkan tentang adanya suatu indikasi bahwa orang-orang yang shaleh adalah orang-orang yang suci. Kenapa? Akal sehat akan berbicara bahwa kriteria orang shaleh diatas adalah dari Allah swt dan bukan dari manusia. Sekarang bandingkan dengan kriteria shaleh dari manusia seperti berikut; “Si Fulan orang yang shaleh”, dengan kriteria shaleh dari Allah swt seperti ayat diatas. Shaleh dari pendapat manusia adalah kebanyakan dari sisi luarnya (kasat mata) saja, akan tetapi kalau kriteria shaleh dari Allah, sudah pasti dan jelas, kriteria orang-orang yang shaleh diatas adalah terlihat dari sisi batiniah/ruhaniahnya, berarti indikasi disini adalah, kesucian (baca: manusia yang suci). Karena ucapan Allah untuk kriteria sebuah keshalehan adalah mutlak orang-orang yang jauh dari perbuatan salah dan dosa.

àHai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah [9]: 119)

Orang-orang yang benar atas dasar kriteria dari Allah swt, lagi-lagi mengisyaratkan kepada kita sebagai manusia yang berakal, mereka adalah orang-orang yang benar yang jauh dari kesalahan dan dosa. Indikasi disini adalah mereka orang-orang yang benar adalah manusia-manusia yang suci!

à katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (QS. Ali Imran [3]: 64)

Ayat tersebut akan menjelaskan lagi tentang kesucian yang harus dimiliki oleh para Nabi & penyambung risalah (Imam/Khalifah). Merekalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah! Jelas, Allah telah menisbatkan kepada mereka sebagai orang-orang yang berserah diri! Lagi dan lagi, hal ini telah mengindikasikan secara jelas bagi orang-orang yang berakal bahwa kesucian ada pada diri-diri mereka! Adakah orang-orang yang berserah diri yg dikatakan oleh Allah itu berbuat kesalahan? Berbuat dosa? Tidak sempurna? Akal sehatlah yang berbicara.

à “Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Ali Imran [3]: 67)

Ayat diatas mengisyaratkan bahwa pemimpin/imam/khalifah harus seorang yang LURUS! Silahkan dipikir sendiri! Jelas, akal sehat berbicara hal ini adalah sebuah indikasi kesucian!

à “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik”. (QS. Shaad [38]: 45-47) ß Jelas, mereka para pemimpin Islam adalah manusia-manusia suci

Sekarang kita kembali melihat bagaimana Al-Qur’an itu:

à “..dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia (kitab suci).” (QS. Fushshilat [41]: 41)

Al-Qur’an adalah kitab yang suci, kitab yang mulia. Berarti secara akal yang sehat, orang-orang yang berhak dan ahli dalam menafsirkan Al-Quran adalah orang-orang yang suci dan mulia, yang mempunyai kapasitas kualitas kelimuan yang sangat tinggi.

SYARAT KETIGA

  1. Ilmu para Imam/Khalifah harus warisan dari para Nabi

àKemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Faathir [35]: 32)

Jelas! Allah swt telah memilih orang-orang yang diwariskan itu! Lagi-lagi, pilihan itu adalah Hak Allah dan Mutlak pada syarat seorang Khalifah/Imam/Pemimpin Umat Islam yang pertama tadi.

Sekarang kita lihat ISYARAT BESAR bagi orang-orang yang berakal pada ayat berikut:

à Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan Allah adalah Pelindung semua orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 68)

Siapakah orang paling dekat dengan Ibrahim? Orang yang paling dekat itulah yang mengikutinya!

“ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar”. (QS. An-Nisaa [4]: 54)

àSesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Ali Imran [3]: 33-34)

Keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat dimasanya!

Sekarang, bagaimana dengan keluarga (Ahlulbait) Nabi Besar Muhammad Rasulullah SAW? Beliau saw adalah penutup para Nabi, Nabi dari segala Nabi, beliau saw adalah puncak kefasihan dan keilmuan para Nabi! Bagaimana dengan keluarga beliau saw?

Sucikah mereka?

à “.. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan (mensucikan) kamu sebersih-bersihnya (sesuci-sucinya)”. (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Lihatlah dikitab-kitab besar mereka (Ahlussunnah), siapakah mereka? Siapakah Ahlulbait? Siapakah manusia-manusia suci itu yang layak dijadikan pemimpin bagi umat sepanjang masa? Kenapa kebanyakan mereka ingkar terhadap kebenaran ini? Padahal tertulis jelas didalam kitab-kitab hadist sahih mereka! Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Fathimah az Zahra, Al-Hasan dan Al-Husain! Sekarang, yang manakah golongan Islam yang benar?

Wassalam

Timun Mas

Posted On 1 Desember 2008

Filed under dongeng

Comments Dropped leave a response

Dongeng dari Jawa Tengah

Adalah seorang janda yang sudah berusia senja bernama Mbok Sirni yang sangat menginginkan seorang anak. Selama inin mbok Sirni hidup sendirian dan kesepian. Seorang anak baginya adalah tempatnya mencurahkan kasih sayang.

Suatu hari mbok Sirni pergi ke gunung untuk menemui seorang raksasa sakti.
Raksasa sakti tersebut bersedia memenuhi permintaannya dengan syarat jika nanti anak tersebut sudah dewasa maka anak tersebut harus diserahkan kepadanya untuk disantap. Mbok Sirni menyetujui syarat tersebut, maka sang raksasa memberinya biji mentimun untuk ditanam.

Mbok sirni menanam dan merawat tanaman mentimun tersebut hingga beberapa minggu kemudian tanaman tersebut berbuah dengan lebat. Di antara buah-buah mentimun tersebut ada satu yang berbeda dari buah lainnya. Buah mentimun tersebut sangat besar dan berkilau seperti emas. Mbok Sirni memetik buah mentimun tersebut dan membelahnya. Ajaib, di dalam mentimun tersebut tergolek seorang bayi perempuan yang mungil dan cantik.
“Oh, terima kasih Tuhan atas keajaiban ini!” isak mbok Sirni dengan penuh rasa syukur.

Mbok Sirni menamai anak gadisnya Timun Mas. Beliau merawat dan mencintainya dengan sepenuh hati hingga Timun mas tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Namun semakin dewasa Timun mas semakin cemas mbok Sirni. Dia teringat perjanjiannya dengan sang raksassa sakti. Tentu saja dia tidak rela menyerahkan anak yang disayanginya untuk menjadi santapan raksasa. Maka di tengah keputusasaannya, mbok Sirni menemui seorang pertapa sakti di lereng gunung untuk meminta pertolongan.

Setelah menempuh perjalanan yang sulit akhirnya mbok Sirni tiba di pertapaan. Seorang kakek tua berjubah putih menyambutnya. Dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh mbok Sirni. Maka pertapa tersebut memberinya 4 bungkusan kecil. “Jika raksasa itu datang, suruhlah Timun mas untuk melarikan diri. Dan bawalah keempat bungkusan ini. Ini akan membantu Timun mas meloloskan diri. Isinya adalah biji mentimun, jarum, garam,dan terasi. Taburkanlah secara berurutan!” kata sang Pertapa.

Setelah memohon diri mbok pergi meninggalkan pertapaan dengan gembira.

Beberapa hari kemudian raksasa sakti itu datang hendak menagih janji. Dari kejauhan sudah terdengar dentuman langkahnya yang menggetarkan bumi. Dengan cepat mbok Sirni menyuruh Timun mas melarikan diri.

Timun mas berlari secepat kakinya bisa membawanya.

Raksasa yang melihat buruannya melarikan diri menjadi geram dan dengan cepat mengejarnya. Semakin lama jarak Timun mas dan raksasa semakin dekat.

Timun mas segera menaburkan bungkusan pertama yang berisi biji mentimun. Tiba-tiba terhamparlah ladang mentimun yang berbuah lebat. Raksasa yang sedang kelaparan segera melahap buah-buah mentimun tersebut hingga perutnya kekenyangan.

Sementara Timun mas menggunakan kesempatan tersebut untuk kembali berlari.

Sayang raksasa itu sangat sakti. Sekejap saja dia sudah akan menyusul timun mas.

Timun mas segera menaburkan jarum yang secara ajaib berubah menjadi hutan bambu yang tinggi dan berduri. Langkah raksasa itu pun terhambat karena kakinya terluka oleh duri-duri bambu.

Setelah berhasil membebaskan diri dari hutan bamboo, raksasa mempercepat langkahnya sehingga hampir menyusul Timun mas. Kembali Timun mas menaburkan kantung kecil yang kini berisi garam. Dan dalam sekejap terhamparlah lautan yang luas. Namun berkat kesaktiannya, raksasa tersebut bisa berenang dengan cepat melewati lautan tersebut.

Ketika jarak raksasa itu semakin dekat dan timun mas hampir kehabisan nafas, Timun mas menaburkan bungkusan keempatnya yang berisi terasi dan tiba-tiba saja tercipta lautan lumpur yang mendidih. Raksasa itu pun mati mengenaskan ditelan lumpur panas tersebut.

Akhirnya Timun mas bisa pulang dengan selamat dan hidup bahagia bersama mbok Sirni.

Selesai

The Chipmunk That Ran Away

Posted On 1 Desember 2008

Filed under dongeng

Comments Dropped leave a response

Once upon a time, there was a nervous little chipmunk. She was always afraid that something bad happened to her. One day, she heard a little noise. It was really only an apple that fell to the ground. But the little Chipmunk was afraid and said “The sky is falling in.” Then she railed away as fast as she could go.Soon she met an old brother Chipmunk, who asked, “Where are you running to, little Chipmunk?”And the little Chipmunk answered, “The sky is falling in, and I am running away.”
“The sky is falling in?” said the old brother Chipmunk. And he told the story to his brother chipmunk, until at last there were a hundred brother Chipmunks shouting, “The sky is failing in.”

Soon the larger animals heard what the Chipmunks were saying. The Deer,the Sheep, the Pig, the Camel, the Tiger, and the Elephant began to say, “The sky is falling in.”Then the wise Lion heard all the noise and wanted to know what was happening. He stopped all the animals and asked, “What are you saying?” The brother Chipmunks said, “Oh we heard it from that little Chipmunk!” And the Lion said, “Little Chipmunk, what made you say that the sky was falling in?” And the little Chipmunk said, “I saw it there near the tree.” “Well,” said the Lion, “Come with me and I will show you how something”. “Now get on my back.” The Lion took her on his back, and asked the animal, to stay where they were until they returned.

Then he showed the little Chipmunk that the apple had fallen to the ground. This made the noise that had made her
afraid. The little Chipmunk said, “Oh, I see. The sky is not falling in.”
the Lion said, “Let’s go back and tell the other animals.”
So they went back. At last all the animals knew that the sky was not falling in.

Raja Parakeet

Posted On 1 Desember 2008

Filed under dongeng

Comments Dropped leave a response

Cerita Rakyat Aceh

Kisah Raja Parakeet, raja burung parkit yang cerdik. Bagaimana ia dapat membebaskan dirinya dan rakyatnya dari bahaya.


Di sebuah hutan belantara yang lebat, tinggalah sekumpulan burung parkit yang hidup damai dan tentram, yang dipimpin oleh seekor raja burung bernama Raja Parakeet. Setiap hari mereka ramai bernyanyi saling bersahutan sambil berpindah-pindah dari satu ranting ke ranting yang lain. Satu sama lain saling menyayangi dan tidak pernah berebutan dalam mencari makan. Itu berkat kemampuan raja Parakeet dalam memimpin rakyatnya untuk senantiasa saling bekerja sama.

Suatu hari ketentraman mereka terusik karena mereka mendengar kabar bahwa hutan mereka kedatangan seorang pemburu burung. Sudah banyak burung yang ditangkap olehnya. Meskipun tempat tinggal mereka jauh di dalam hutan, namun tidak menutup kemungkinan pemburu itu akan segera mengetahui keberadaan mereka.
“Aduh bagaimana ini? Kita tidak bisa leluasa mencari makan. Salah-salah nanti kita menginjak perekat yang dipasang si pemburu. Kalau kita tertangkap, bagaimana nasib anak-anak kita yang masih kecil?” keluh seekor ibu burung kepada suaminya.
“Aku juga bingung bu! Tapi bagaimana lagi, kita harus tetap keluar mencari makan kalau tidak ingin anak kita mati kelaparan. Tapi kita harus ekstra hati-hati agar tidak terjebak oleh perangkap pemburu,” jawab suaminya.
“Aku dengar pemburu itu sudah semakin dekat dengan rumah kita! Beberapa burung nuri memberitahuku. Sudah banyak yang tertangkap!” kata burung lainnya.

Rakyat burung parkit semakin resah. Apalagi beberapa hari kemudian mereka melihat pemburu itu datang di sekitar rumah mereka dan mulai memasang perekat di ranting-ranting pohon untuk menangkap mereka. Alhasil banyak burung parkit yang terjebak dan menempel pada perekat si pemburu. Mereka menangis menyadari hidup mereka terancam. Tidak terkecuali raja Parakeet, ia pun terjebak. Namun ia berusaha menenangkan rakyatnya.
“Jangan panik rakyatku! Pemburu itu tidak akan membunuh kita. Buktinya ia hanya memasang perekat untuk menjebak kita. Berarti ia hanya ingin menangkap kita hidup-hidup!” seru raja Parakeet.
“Tapi apa gunanya hidup! Anakku baru menetas dan sekarang mereka pasti sedang menangis kelaparan menungguku!” tangis seekor ibu burung.
“Dengarkan aku wahai rakyatku!” seru raja Parakeet. “Kita harus bersabar sebentar. Esok, si pemburu pasti akan kembali untuk mengambil kita…”
Serentak semua burung menjerit dan menangis.
“Tenanglah dulu!” teriak raja Parakeet. “Kita akan mengatur strategi.”
“Maksud Tuan?” tanya rakyatnya.
“Kita akan berpura-pura mati!” kata raja Parakeet.
“Berpura-pura mati? Untuk apa Tuan. Toh aku akan mati kalau terpisah dengan anakku,” kata seekor ibu burung.
“Tentu saja untuk mengelabui si pemburu. Pemburu itu ingin menangkap kita hidup-hidup, jadi kita tidak berguna buatnya kalau kita semua mati. Besok ia pasti datang dan melepaskan kita satu persatu dari perangkap ini. Tunggulah aba-abaku! Dalam hitungan yang keseratus, lalu kita semua terbang bersama-sama,” kata raja Parakeet.
“Oooohhh…ya ya ya kami mengerti!” jawab semua rakyatnya.

Esoknya si pemburu datang. Ia memeriksa tangkapannya satu persatu sambil melepaskannya dari perangkapnya. Ia kecewa karena semua burung tangkapannya tidak bergerak.
“Apa mereka mati ya?” tanya si pemburu dalam hati.
Sementara itu rakyat Parkit menunggu aba-aba rajanya dengan cemas dan tak sbar. Malang ketika pemburu hendak melepaskan burung terakhir yang tak lain adalah raja Parakeet, ia terpeleset. Rakyat parkit terkejut dan serentak terbang tanpa menunggu aba-aba. Pemburu juga terkejut melihat buruannya yang disangkanya mati ternyata kabur. Tinggal raja Parakeet yang masih menempel di perangkapnya. Pemburu memegangnya dengan marah.
“Hah! Ternyata kalian menipuku. Rasakan! Kau akan mati di tanganku!” seru Pemburu.
“Jangan! Jangan bunuh aku Tuan! Aku berjanji kalau kau melepaskanku, aku akan menghiburmu. Aku akan menyanyi untukmu setiap hari,” janji raja Parakeet.
Pemburu berpikir sejenak.
“Baiklah! Kita lihat, apakah kau mampu menghiburku. Awas kalau suaramu jelek, aku tidak segan-segan menghukummu,” ancam pemburu.

Raja Parakeet dibawa ke rumah pemburu. Di sana ia dibuatkan tempat untuk bertengger. Setiap hari ia bernyanyi untuk menghibur Pemburu. Karena suara raja Parakeet amat merdu, lama-kelamaan Pemburu menyayanginya. Ia selalu membanggakannya dan memamerkannya ke teman-temannya. Banyak yang ingin membelinya tapi Pemburu selalu menolaknya meskipun ditawar dengan harga yang sangat tinggi.

Lama-kelamaan berita burung bersuara merdu itu sampai di telinga raja Aceh. Sebagai raja, ia ingin sekali memilikinya. Maka diutuslah seorang wakilnya untuk membeli burung tersebut. Wakilnya segera pergi ke rumah Pemburu.
“Raja mengutusku untuk memberikan penawaran buat burungmu. Raja akan membelinya dengan harga tinggi,” kata Wakil raja.
“Tapi tuan, aku sama sekali tidak ingin menjualnya,” jawab pemburu.
“Raja pasti sangat kecewa,” ujar Wakil raja membuat Pemburu merasa tidak enak.
“Baiklah!” kata pemburu dengan berat hati. “Raja boleh membelinya.”
Lalu kepada raja Parakeet, Pemburu berkata, “Sobat, aku terpaksa melepasmu. Baik-baiklah kau di istana. Aku pasti merindukanmu.”

Singkat cerita kini raja Parakeet tinggal di istana. Raja secara khusus membuatkan sebuah sangkar yang terbuat dari emas. Seorang perawat yang sangat ahli dalam merawat burung ditugaskan untuk merawatnya. Pendek kata hidup raja Parakeet sangat menyenangkan. Benarkah? Ternyata tidak. Karena raja Parakeet selalu ingat tempat tinggalnya sendiri di hutan sana. Teringat akan rakyatnya yang menunggunya. Hal itu membuat raja Parakeet menjadi murung. Makanan yang disediakan untuknya, sedikit pun tidak disentuhnya. Kini ia tidak mau lagi membuka mulutnya, apalagi bernyanyi untuk menghibur raja Aceh. Raja heran melihat perubahan tersebut. Ia memanggil perawatnya.
“Kenapa burung kesayanganku jadi pendiam begitu? Apakah ia sakit?” tanya raja Aceh.
“Ampun Tuan, hamba pun tidak mengerti. Semua kebutuhan dan kesehatannya selalu saya cek dengan seksama. Tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Tapi sepertinya ia banyak pikiran,” jawab Perawat.
Raja tidak mengerti bagaimana seekor burung bisa punya banyak pikiran.
“Ternyata hewan pun punya masalah juga?” pikir Raja sambil geleng-geleng kepala.

Beberapa hari kembudian raja Parakeet mendapat ide.
“Ah, kenapa aku tidak pura-pura mati lagi,” pikirnya. “Raja akan melepaskanku kalau aku mati.”

Maka tanpa membuang waktu raja Parakeet segera berpura-pura mati. Perawatnya bergegas melaporkan berita itu kepada raja Aceh. Raja Aceh sangat sedih mendengarnya. Ia sebenarnya sangat menyayanginya.
“Siapkan acara penguburan untuknya! Ia harus dikuburkan seperti layaknya keluarga raja,” perintah raja Aceh.

Raja Aceh sendiri yang memimpin upacara penguburan tersebut. Setelah kuburan disiapkan, seorang prajurit yang membawa tubuh raja Parakeet meletakannya di tanah. Raja Parakeet tanpa membuang waktu segera mengepakkan sayapnya dan terbang tinggi secepat kilat.
“Horeeeee aku bebaaaassss…!” teriaknya.
Sementara raja Aceh dan para pengawalnya terkesima menyaksikan peristiwa itu, namun akhirnya mereka tertawa begitu menyadari mereka telah tertipu oleh seekor burung.
Raja Parakeet terbang dengan gembira menuju hutan tempat tinggalnya. Rakyatnya menyambut raja mereka dengan penuh suka cita. Demikianlah akhirnya raja Parakeet kembali berkumpul dengan rakyatnya dan hidup bahagia.

——-

Selesai

Goldilocks and Three Bears

Posted On 1 Desember 2008

Filed under dongeng

Comments Dropped leave a response

Once there were three bears that lived in a house in the woods : a papa bear, a mama bear, and a baby bear. One morning they decided to take a walk before breakfast to let their porridge cool.

A little girl named Goldilocks lived with her mother nearby. Golddocks took a walk through the woods and found the bear’s house. She snielled the porridge in the kitchens and went inside. Goldilocks tasted the porridge in each bowl and finally ate up the porridge in the small bowl. Then she sat on a big chair, but she didn’t like it, because it was hard. Afterwards she sat on the small chair, and it was just right. But while she was sitting on it she broke it. After eating the porridge, Goldilocks felt full and sleepy, and then she went upstairs. There she found a small bed. She lay down on it and fell asleep.

While she was sleeping, the three bears came home. When they went into the kitchen, they got very surprised. Someone had tasted their porridge, even eaten up baby bear’s porridge, while they were taking a walk. Moreover the poor baby bear was upset when he found that his little chair broke into pieces. When they went upstairs, they found out that Goldilocks was sleeping. Baby bear cried out, “Someone has been sleeping in my bed and here she is!”

Goldilocks woke up when she saw the three bears; she jumped out of bed and ran out of the house to her home. Never again did she make herself at home in anyone else’s house.

Goldilocks and Three Bears

Posted On 1 Desember 2008

Filed under dongeng

Comments Dropped leave a response

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:”Cambria Math”; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face {font-family:”Comic Sans MS”; panose-1:3 15 7 2 3 3 2 2 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin-top:0cm; margin-right:0cm; margin-bottom:10.0pt; margin-left:0cm; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:10.0pt; line-height:115%;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;}

Once there were three bears that lived in a house in the woods : a papa bear, a mama bear, and a baby bear. One morning they decided to take a walk before breakfast to let their porridge cool.

A little girl named Goldilocks lived with her mother nearby. Golddocks took a walk through the woods and found the bear’s house. She snielled the porridge in the kitchens and went inside. Goldilocks tasted the porridge in each bowl and finally ate up the porridge in the small bowl. Then she sat on a big chair, but she didn’t like it, because it was hard. Afterwards she sat on the small chair, and it was just right. But while she was sitting on it she broke it. After eating the porridge, Goldilocks felt full and sleepy, and then she went upstairs. There she found a small bed. She lay down on it and fell asleep.

While she was sleeping, the three bears came home. When they went into the kitchen, they got very surprised. Someone had tasted their porridge, even eaten up baby bear’s porridge, while they were taking a walk. Moreover the poor baby bear was upset when he found that his little chair broke into pieces. When they went upstairs, they found out that Goldilocks was sleeping. Baby bear cried out, “Someone has been sleeping in my bed and here she is!”

Goldilocks woke up when she saw the three bears; she jumped out of bed and ran out of the house to her home. Never again did she make herself at home in anyone else’s house.

Pengangkatan Imam/Khalifah Islam itu Nas atau Musyawarah?

Posted On 1 Desember 2008

Filed under Al Shia

Comments Dropped leave a response

Semua ulama sepakat dan sependapat bahwa apabila sesuatu masalah telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya secara jelas, maka memilih yang lain dari itu tidaklah dibolehkan. Dengan kata lain, apabila telah ada nas (nash: bukti nyata atas perintah Allah dan Rasul-Nya), maka orang tidak boleh berusaha mencari hukum yang lain daripada yang telah ditetapkan nas. Apabila telah ada nas tentang sesuatu, maka tidaklah boleh melakukan ijtihad mengenai masalah tersebut. Demikian pula tentang pemilihan. Berikut adalah dalil-dalil yang menerangkan apabila NAS sudah ada maka tidak boleh ada lagi pilihan yang lain dari manusia (baca: tidak ada lagi musyawarah/tidak ada ijtihad). Allah SWT berfirman:

“Tuhanmu telah berfirman dan memilih apa yang Ia kehendaki. Bagi mereka tiada pilihan. Mahasuci Allah dan Maha Tinggi diatas sekutu-sekutu yang mereka persekutukan denganNya.” [Al-Qashash [28]:68]

Ayat ini menunjukkan dengan tegas bahwa manusia tidak boleh memilih selain apa yang telah dipilih oleh Allah SWT. Dalam surah yang lain, Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, kepunyaanNya ciptaan dan perintah (menciptakan dan memerintah adalah Hak Allah).” [Al-A’raf [7]: 54]

Dalam surah al-ahzab, Allah Ta’ala berfirman:

“Tiada dibenarkan bagi orang mukminin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu keputusan, bahwa mereka akan ambil pilihan(lain) dalam soal mereka itu. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul Nya, pastilah ia tersesat dalam kesesatan yang nyata.” [Al-ahzab [33]: 36]

Allah juga berfirman:

“Mereka berkata: ‘Apakah ada sesuatu kekuasaan bagi kami?’ Katakanlah, ‘Sesungguhnya kekuasaan adalah urusan Allah.” [Ali Imran [3]: 154]

Dalam firman yang lain:

“Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul Nya. Tapi taqwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” [Al-Hujurat [49]: 1]

Ayat berikut adalah bukti yang menjadikan pemimpin umat adalah Allah. Ayat ini ditujukan kepada Nabi Ibrahim as, dalam Al-Quran:

“Akan kujadikan kau Imam/Pemimpin bagi manusia.’ Ibrahim memohon, ‘Dari keturunanku juga, jadikan pemimpin-pemimpin.’ Menjawab (Tuhan) dan berfirman, ‘Janji-Ku tidak berlaku bagi orang yang zalim.” [Al-Baqarah [2]: 124]

Ayat ini dengan tegas menunjukkan bahwa kepemimpinan itu adalah MUTLAK janji Allah, sedang manusia tidak mempunyai hak untuk memilih. Kepemimpinan (imamah) adalah hak mutlak dari Allah Ta’ala.

Berikut adalah ayat yang menerangkan bolehnya berijtihad (musyawarah) apabila tidak ada ketetapan/kejelasan dari Allah Ta’ala, berfirman dalam surah Asy-Syuura: 38

“Dan urusan mereka dimusyawarahkan antara sesamanya.” [Asy-Syuura [42]: 38]

Ayat ini biasanya dipakai oleh Ahlussunnah bahwa pemilihahan khalifah waktu itu dimusyawarahkan. Padahal jelas ayat ini tidaklah bertentangan dengan ayat yang dikutipkan sebelum-sebelumnya, karena, sebagaimana telah dikatakan, apabila telah jelas NAS dari suatu masalah, maka tidak boleh dimusyawarahkan lagi (baca: tidak ada ijtihad). Perintah Allah serta janji-Nya telah demikian jelasnya, sehingga kaum muslimin tidak boleh lagi memusyawarahkannya. Aneh, berkaitan dengan pengangkatan Imam Ali, Ahlussunnah tidak menyadarinya padahal sudah jelas penunjukan kepemimpinan setelah Rasul Saw sudah disampaikan oleh Allah melalui Jibril a.s dan diucapkan oleh Rasul saw sendiri, hal itu tertulis jelas dikitab-kitab besar mereka. Berarti musyawarah sudah tidak ada lagi. Tetapi kenapa mereka (3 khalifah) melakukan musyawarah, dan akhirnya Abu Bakar yang naik? Bukankah itu sebuah pembangkangan/pengkhianatan terhadap firman-firman Allah SWT?

Demikian pula pada ayat Al Quran:

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam (segala) urusan” [Ali-Imran [3]: 159]

Seperti yang kita telah ketahui ayat ijtihad sebelumnya, para Ulama Mazhab besar (Ahlussunnah maupun Syiah) sependapat bahwa segala sesuatu dapat dimusyawarahkan, KECUALI yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Masalahnya sekarang, adakah pengganti Rasul oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya? Sekiranya tidak ada, maka hal ini adalah masalah yang luar biasa pentingnya ini, yaitu pengangkatan pemimpin umat pengganti Rasul, harus dilakukan dengan musyawarah. (Asumsi tidak ada penunjukkan dari Allah dan Rasul maka musyawarahlah yg harus dilakukan), baru kemudian berlakulah ayat diatas (musyawarah).

Kembali ke riwayat al-Ghadir

(Riwayat tentang NAS pengangkatan pemimpin setelah Nabi saw)

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan Tuhanmu kepadamu. Bila engkau tidak melakukannya maka engkau tidak menyampaikan Risalah Tuhanmu. Dan Allah akan menjagamu dari (kejahatan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. ” [ Q.S 5:67 ]

Ayat diatas asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunnya ayat) adalah di Ghadir Khum. Allah Ta’ala memerintahkan Rasulullah saw untuk mengumumkan pengangkatan saudaranya Ammirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as salah seorang dari ahlulbaytnya (keluarganya) yang telah disucikan Allah Ta’ala (Lihat: Q.S:Al-Ahzab:33) sebagai pemimpin ummat sepeninggal beliau. Maka hal itu terjadi disuatu lembah (Ghadir) yang dinamakan dengan Khum. Bukankah sudah jelas? Hal ini adalah MUTLAK sebuah penunjukkan dari Allah swt! Lihatlah riwayat ayat diatas tentang pengangkatan Imam Ali sebagai pemimpin/khalifah/imam penerus Nabi Muhammad saw didalam kitab-kitab besar SAHIH Ahlussunnah wal jama’ah! Kenapa sebagian besar dari mereka telah ingkar?

Setelah melihat ayat diatas, layakkah Abu Bakar, Umar dan Utsman yang telah merampas HAK kepemimpinan Imam Ali kita jadikan pemimpin umat islam? Bukankah kepemimpinan mereka tidak sesuai dengan perintah-perintah Allah? Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul Nya, pastilah ia tersesat dalam kesesatan yang nyata.” [Al-ahzab [33]: 36]. Bagaimana posisi 3 khalifah itu dengan ayat ini?? Akal sehatlah yng berbicara.

Wassalam

Siapakah Para Pemimpin Islam Itu?

Posted On 1 Desember 2008

Filed under Al Shia

Comments Dropped leave a response

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,” (QS. al-Anbiya [21]: 73)

Siapakah para pemimpin-pemimpin yang dimaksud dalam ayat diatas? Apakah mungkin seorang pemimpin penerus Nabi Muhammad saw yang meneruskan risalah nabi itu tidak sempurna (cacat), tidak suci dan berdosa? karena Allah menyebutkan bahwa kriterianya adalah yang HANYA & SELALU MENYEMBAH kepada Allah, berarti dia adalah seorang/orang-orang yang tidak pernah melakukan peribadatan selain kepada Allah. kalaulah kita yang menunjuk, atau memilih, berarti Allah tidak memikirkan kemaslahatan umatnya karena ada juga pemimpin yang tidak sempurna yang juga disebut dalam Al-Qur’an, lihat kembali sejarah Abu Bakar, Umar dan Utsman, bukankah mereka kafir dan menyembah berhala sebelum datang Rasulullah saw? Dapatkah mereka dimasukkan ke dalam kategori ayat diatas? Jelas yang menjadikan pemimpin dan yang memilih itu adalah Allah swt. Mereka adalah manusia yang sempurna!

Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu’min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Qur’an), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”. (QS.an-Nisa [4]: 162)

Dan ayat diatas juga ada yg disebut bahwa ada orang yang beriman sejak sebelum orang-orang banyak beriman.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 30)

Malaikat saja masih ragu pada awalnya, berarti hal ini bukanlah perkara yang mudah yang manusia sanggup merancang sebuah kepemimpinan.

Sekarang, adakah pemimpin-pemimpin yang bathil, berbuat salah, jahat dan dzalim?

Dan Kami jadikan mereka pemimpin – pemimpin yang menyeru (manusia) ke neraka dan pada hari kiamat mereka tidak akan ditolong”. (QS. al-Qashash [28]: 41)

Dan mereka berkata;:”Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menta’ati pemimpin – pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)” (QS. al-Ahzab [33]: 67)

Hal ini dikarenakan mereka tidak mengikuti apa yang telah di perintahkan Allah kepada manusia untuk mengikuti pemimpin yang telah TERTULIS jelas di Al-Qur’an

Siapakah para pemimpin yang benar yang telah tertulis dalam Al-Qur’an yang seharusnya kita ikuti? Berikut adalah ayat dengan ISYARAT BESAR bagi orang-orang yang berpikir dan berakal.

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)” (QS. al-Qashash [28]: 5)

Siapakah orang-orang yang tertindas itu? Siapakah mereka yang mengalami PENINDASAN PALING BESAR di muka bumi ini? Tidak ada orang yang tidak mengetahuinya siapa mereka! Tengoklah apa yang terjadi pada keturunan Ahlulbait Rasulullah SAW.

Imam Ali kepalanya ditikam belati dari belakang, Fatimah Azzahra mati dalam sakit hati karena haknya terampas, janinnya gugur karena perlakuan keras beberapa orang munafik, Imam Hasan mati diracuni, Imam Husain mati disembelih secara sadis, dicincang, kepala terpenggal, anggota tubuh terserak dan tak terkuburkan di padang karbala Iraq, dan seterusnya mereka diperlakukan semena-mena, mereka semua dibunuh oleh kaum pembangkang!

Orang-orang yang sehat akan melihat, tentunya merekalah yang berhak untuk memegang kendali dimuka bumi ini, karena Allah sudah menjelaskan sejelas-jelasnya. Dan sudah pasti tentunya mereka yang tidak pernah berbuat dhalim biar sekecil apapun. Mereka tidak pernah berbuat dosa sedikitpun. Merekalah manusia-manusia yang suci, Ahlilbait Rasulullah saw!

Al-Qur’an telah merangkum kriteria orang-orang yang telah dijamin ini,

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”. (QS. al-Ahzab [33]: 33)

Kalau ada yang menyangkutkan ini dengan beserta istri-istri nabi, maka hal ini tidak bisa masuk dalam kriteria yang telah terangkum dalam Al-Qur’an yang telah saya sampaikan diatas.

Bahkan Allah telah mengancam mereka (istri-istri nabi), karena telah melakukan persengkokolan untuk menyusahkan Rasulullah SAW. Adakah manusia suci itu berbuat kesalahan?

Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mu’min yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.” (QS. at-Tahrim [66]: 4)

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang patuh, yang beriman, yang ta’at, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang berpuasa, yang janda dan yang perawan.” (QS. at-Tahrim [66]: 5)

Setelah jelas ayat-ayat diatas yang menerangkan dan memberikan isyarat besar bagi kita siapakah pemimpin umat yg HAK itu, tetapi masih belum juga puas? lihatlah ayat berikut:

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang- orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk/ruku’ (kepada Allah)”. (QS. al-Maa’idah [5]: 55)

Jelas pemimpin dan penolong yang benar adalah Allah, Rasul-Nya (Nabi Muhammad saw) dan orang-orang yang beriman yang shalat dan berzakat seraya sambil ruku, siapakah orang yang berzakat seraya ruku itu? Silahkan lihat referensi Ahlussunnah asbabun nuzulnya, sejarah islam yang sahih telah mencatat dari berbagai jalur Ahlussunnah, dan dia orangnya adalah Imam Ali bin Abi Thalib as! Ayat diatas adalah perintah MUTLAK dari Allah swt untuk mengikuti orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh-Nya.

Bukti dia adalah Ali bin Abi Thalib, silahkan lihat kitab-kitab besar Asbabun Nuzul dari kalangan Ahlussunnah:

1. Syawāhidut Tanzīl, Al-Hakim Al-Haskani Al-Hanafi, juz 1

2. Asbābun Nuzūl, Al-Wahidi An-Naisaburi

3. Ad-Durrul Mantsūr, As-Suyuthi, juz 2

4. Fathul Qadīr, Asy-Syaukani, juz 2

5. Al-Kasysyāf, Az-Zamakhsyari, juz 1

6. Tafsir Ath-Thabari, juz 6

7. Tafsir Al-Jalālain

8. Yanābī’ul Mawaddah, Al-Qundusi

9. Tafsir Fakhur Razi juz 12

10. Ash-Shawā’iqul Muhriqah, Ibnu Hajar

11. Kanzul ‘Ummāl, juz 45

12. Farā`idus Simthain, juz 1

Sekarang, manakah golongan yang benar yang mengikuti ayat diatas? Hati nurani yang bersih serta akal sehatlah yang berbicara setelah melihat kebenaran diatas!

Wassalam!